******
Jam sudah menunjukkan pukul
07:00 pagi, tapi aku masih terbaring di tempat tidur. Dengan tatapan kosong,
memandangi semua foto-foto mikha yang ku pajang di hampir seluruh dinding
kamarku.
Ya, tanpa sepengetahuannya aku
mengambil foto-fotonya yang ia upload ke facebook, kemudian ku cetak dan ku
bingkai agar setiap hari aku bisa melihatnya, senyumnya, yang selalu membuatku
bersemangat untuk pergi ke sekolah. Yes, I really love him ! J
“Shilla, kamu kenapa belum berangkat sekolah, nak ?” Mama
tiba-tiba masuk ke kamar menghentikan lamunanku.
“Shilla gak enak badan, Mah..”
kataku berbohong.
“Kamu sakit? Mama panggilkan
dokter Vira ya sayang?” Mama mulai
khawatir. Bagaimana tidak, aku adalah anak satu-satunya dan Papa sudah
meninggal 2 (dua) tahun yang lalu akibat serangan jantung.
“Nggak usah mah, Shilla Cuma
butuh istirahat aja kok. Kepala shilla pusing, nanti minum obat warung juga
sembuh.” Kataku mencoba meyakinkan mama dengan tersenyum manja sambil
memeluknya.
“Yasudah, kamu istirahat ya
nak.. Kalau ada apa-apa telepon mama. Nanti mama suruh mbok Onah jagain kamu
terus. Mama berangkat kerja ya sayang..” mama mencium keningku sebelum berlalu.
“Iya, mah.. Hati-hati ya..” ucapku
tersenyum lega.
Baru kali ini aku bolos
sekolah. Dari kelas X hingga sekarang aku kelas XII, aku tidak masuk sekolah
hanya 5 hari itupun saat Papa meninggal, aku masih sangat berduka dan down sehingga
butuh waktu lebih lama untuk bisa kembali belajar seperti biasa. Dan saat itu
guruku memberi ijin dan mengerti kondisiku.
Tiba-tiba hpku berbunyi
tanda sms masuk.
“Shilla
lalalala, lo kemana? Ga masuk sekolah? Kenapa?”
Sms dari Dina teman
sebangkuku. Ia memang selalu memanggilku seperti itu. Ia bawel, baik dan sangat
care padaku. Namun ia tidak pernah tau siapa orang yang sangat aku cintai
selama ini. Perasaan ini sangat tersembunyi, hanya mama yang tahu dan itupun
karena mama memaksa untuk menceritakan siapa foto yang terpampang di dinding
kamarku.
“Hei Din, gue hari ini gak masuk sekolah.
Bedrest. Titip salam ya buat Bu Siska, nanti nyokap gue mau call beliau kok
untuk kasih kabar. Oya, kalau ada PR kasih tau ya J”.
Aku membalas smsnya.
“Okay Shilla lalala, GWS
dear J”.
Mikha.. karena mikha lah aku
membolos. Sudah 3 tahun aku mencintainya dalam diamku, baru kali ini aku merasa
patah hati hingga seperti ini.
Kemarin sepulang sekolah aku
melihatnya berboncengan dengan seorang perempuan cantik berambut panjang.
Perempuan itu terlihat memeluk mikha dari belakang, mesra sekali mereka..
aku hafal betul motor mikha.
Motor sport berwarna putih, helm putih dan ia mengenakan jaket kesayangannya
yang ia kenakan hampir setiap hari.
Entah mengapa rasanya begitu
sakit, lemas dan aku tidak bersemangat melakukan hal apapun.
“Ternyata begini ya rasanya
patah hati”.
“Siapa perempuan itu? Apa ia
pacar Mikha? Apa selama ini mikha punya
pacar dan aku sama sekali tidak mengetahuinya?”. Aku bertanya-tanya sendiri.
Ah sudahlah, tidak
seharusnya aku begini. Aku tidak berhak seperti ini. Aku yang memutuskan untuk
mencintainya dalam diam, tanpa ia perlu mengetahuinya. Tapi mengapa saat ia
bersama perempuan lain aku patah hati? Bodoh sekali aku.
**
“Hei shilla lalala, lo udah
masuk. Sakit apaan si lo ?”
“Eh tau gak, kemarin si
Mikha celingak celinguk ngeliatin ke meja kita terus. Entah dia nyariin lo,
atau dia ngeliatin gue? Hahaha”. Dina nyerocos dan kemudian tertawa sendiri.
“Hehe, gue Cuma butuh
istirahat aja kok. Ah masa? Mikha curi-curi pandang sama lo kali din,ciyee.”
“Ahh lo bisa aja, mana mungkin
cowok sepinter n sekeren mikha suka sama gue, yang ada dunia kebalik shill”.
Jawabnya dengan muka memerah kegeeran.
“Apa mungkin mikha nyariin
gue? Ahhhh mustahil..”. Batinku.
“Eh Shill, tuh orangnya
dateng”.
Seperti biasa, aku hanya
bisa menatapnya, mengaguminya dari kejauhan tanpa pernah berani untuk
mengungkapkan.
Mikha adalah cowok pendiam,
keren dan pintar. Dia adalah rivalku di kelas, jika bukan dia yang juara kelas,
ya aku lah juara kelasnya. Selalu seperti itu sejak kelas X.
Banyak sekali yang mendekati
mikha, tapi sikapnya sangat dingin terhadap perempuan.
Oleh karena itu aku tidak
pernah berani mengungkapkan perasaan yang sudah terpendam selama tiga tahun
ini. Bahkan menegurnya pun aku segan.
Jika berpapasan dengannya,
kami hanya saling tersenyum kemudian berlalu.
Jika bukan karena soal
pelajaran atau apapun yang mengharuskan kami berbicara, selebihnya kami tidak
pernah mengobrol selayaknya teman-teman sekelas lainnya.
**
Sebentar lagi adalah
pengumuman hasil kelulusan.
Mama menyuruhku untuk
melanjutkan kuliah di luar negeri, tapi aku tidak mau..
Bagaimana mungkin aku tega
meninggalkan mama, walaupun ada mbok onah di rumah.
“Shil, nanti lo mau kuliah
dimana? Bareng yuk, biar kita bisa sama-sama terus. Hehehe” .
Tanya dina sambil mengunyah
bakso di kantin sekolah.
“Paling gue lanjutin di UI
din, yaudah lo di UI juga ya biar kita masih bisa ketemu”.
“Iya iya gue juga di UI deh,
nyokap gue bebasin gue kok mau kuliah dimana aja. Yuadah yuk masuk kelas udah
bell masuk nih”.
Dalam perjalanan masuk ke
kelas, di depan kami ada mikha yang menuju kelas juga. Dari belakang saja dia
sudah terlihat keren. Ah, mikha..
“Eh mikha, nanti lo mau
lanjut kuliah dimana?”
Tanya dina dengan gaya
centilnya.
“Hmmm, gue mau lanjut kuliah
di Sydney, din”. Mikha menjawab seperlunya, tersenyum kemudian duduk di
bangkunya.
Aku yang mendengar langsung
lemas.
Mikha akan kuliah di Sydney
dan artinya aku tidak akan bertemu lagi dengannya.
Aku tidak bisa memandanginya
setiap hari, sepertinya yang ku lakukan selama ini.
Aku sengaja selalu menempati
bangku di belakang bangku mikha namun tidak sebaris dengannya melainkan di
barisan sebelah kanan. Agar aku selalu dapat memperhatikan ia saat ia belajar
tanpa ada orang yang tahu.
Mana mungkin aku bisa melupakan
Mikha, cinta pertamaku.
“Wah hebat ya shill si mikha.” Bisik Dina.
Aku masih terdiam dalam
lamunanku.
**
Hari ini adalah pengumuman
kelulusan. Aku LULUS !! aku sangat senang, aku mendapatkan nilai terbaik di
sekolah ini.
“Shilla lalala, selamat
yaaaa lo dapat nilai terbaik, hebaaaat ! Proud of you!” puji Dina.
“sama-sama din, lo juga
selamat ya udah masuk 50 besar nilai terbaik”
“Ahhhh, lo mah ngeledek!
Hahaha”
Kami tertawa bersama.
Teman-teman yang lain bergantian memberikan selamat
padaku. Tapi kemana Mikha? Aku ingin sekali mengucapkan selamat kepadanya meski
ia meraih nilai tebaik kedua setelahku.
“Shill..” dari belakang ada
suara memanggilku, aku menoleh..
“Selamat ya shill, lo
hebat.. gue gak bisa ngalahin lo kali ini..”
Mikha memberikan selamat
kepadaku.. yaa.. untuk pertama kalinya.. kami bersalaman..
“Ehh.. mmm.. Mikha..” aku
salting dan terlihat seperti orang bodoh.
“i..iya.. makasih mik, mm..
lo juga hebat.. nilai kita beda tipis kok..”
aku tersenyum dan rasanya
ingin terus tersenyum.. idiot, seperti itulah aku di hadapan mikha saat ini.
Selama 3 (Tiga) tahun aku
sekelas dengannya, baru kali ini kami berhadapan, bersalaman dan berbicara
seperti ini. Ya tuhaaaaan, mimpi apa aku semalam. Rasanya tangan ini tidak ingin aku cuci.
“Shill, din.. gw pamit yaa..
besok gue mau pergi..” Mikha berbicara sembari tersenyum, lebih hangat, tidak
dingin seperti biasanya.
“Mau kemana lo Mik?
Berangkat ke Sydney? “
Tanya dina serius.
Mikha hanya tersenyum, kemudian berlalu sambil melambaikan tangan.
“Bye…”
Aku masih seperti orang
idiot, sampai tidak sadar kalau mikha sudah pergi..
“Eh shill, lo ngapain sih
senyum-senyum sendiri gitu? Ishhhh lo sakit ya?” dina bertanya keheranan sambil
memegang dahiku layaknya orang sakit.
“Nggak, nggak apa-apa
kok. Hehe. Mana mikha ?”
“Yeeeee, elo sih ngelamun
aja.. mikha udah pergi, barusan dia pamit katanya besok mau pergi, tapi ga
bilang mau kemana.. gue Tanya ke Sydney tapi dia malah senyum.” Seru Dina
“HAH, LO SERIUS??” tanyaku
kaget.
“Gue harus ketemu Mikha,
Din. Ada yang harus gue omongin sama dia”.
Aku berlari mengejar mikha.
Entah mengapa hatiku tergerak untuk mengungkapkan perasaanku selama ini kepadanya.
Karena rasanya aku tak sanggup bila harus memendam perasaan ini lebih lama
lagi.
“Vino, liat mikha nggak?”
tanyaku panik.
“Baru aja jalan tuh Shill
naik motornya”.
“Yahhh.. bagaimana ini..”.
Batinku.
Aku mencari Dina, mungkin ia
bisa menemaniku besok untuk ke rumah Mikha sebelum ia berangkat.
“Din….!” Teriakku memanggil
ia dari kejauhan.
“Eh gimana shill, ada
Mikhanya?” Tanya Dina penasaran.
“Telat gue Din, udah jalan
dia.. besok lo bisa gak nemenin gue ke rumah mikha pagi-pagi.
Penting din, ini masalah
hati”. Kataku dengan wajah memelas.
“Masalah hati?” Tanya dina
kebingungan.
Akhirnya aku memutuskan
untuk jujur kepada dina atas perasaanku terhadap Mikha selama ini. Dina
terkejut, ia tak menyangka aku mencintai Mikha sedalam ini. Dan ia heran
mengapa ia bisa tidak tahu padahal selama 3 tahun aku sebangku dengannya.
“Lo tega banget sih shill,
gak cerita sama gue. Gue sahabat lo bukan sih?” Tanya dina kesal.
“Sorry Din, perasaan ini
emang gue pendem banget selama ini dan gue gak mau ada yang tahu karena gue
malu dan gue takut.. Maafin gue ya, yang penting kan gue udah jujur sekarang.”
“Yaudah besok gue anterin,
tapi traktir gue makanan yang paling mahal ya!”
“Ishh, dasar lo yaa! Okeee
tenang besok gue traktir deh asal gue bisa ketemu Mikha. Hehe”
“Iyaaaa nenek, besok gue
jemput lo udah harus siap ya, jam 07:00 gue sampe rumah lo.”
**
Pagi ini, aku akan
mengungkapkan perasaanku pada Mikha.. ya, aku harus berani.. Aku hanya ingin ia
tahu, meski mungkin cintaku tak akan terbalas, tapi setidaknya aku tidak lagi
mencintainya hanya dalam diam.. agar perasaan ini lega. Dan aku akan membawa
kado special untuknya, sebelum ia pergi..
“TIN..TIN..!!” suara klakson
berbunyi di depan rumah.. pasti Dina..
“Iya sabaaar, ini gue mau keluar..” teriakku.
“Ciyeee, yang mau katakan
cinta cantik benerrr..” Dina meledek di dalam mobil.
“Ishh, rese lo ah..”
“Serius, lo cantik banget
shill, pasti Mikha kelepek-kelepek.”
**
Sesampainya di rumah Mikha..
“Kok sepi ya, Din?
Jangan-jangan udah berangkat lagi”.
“Yaudah kita masuk dulu
yuk”. Ajak dina.
(Setelah beberapa lama
memencet bel akhirnya pembantu Mikha keluar)
“Pagi bi, Mikha nya ada?”
tanyaku
“Maaf non, mas mikha dan
orang tuanya ada di rumah sakit. Bibik disuruh jagain rumah. Padahal bibik pengen
banget ikut kesana, bibik khawatir non sama mas Mikha.” Bibik berbicara sambil
menangis.
“Memang Mikha kenapa, bik?
Kenapa sampai dibawa ke rumah sakit?
Kemarin kami masih ketemu mikha dan ia baik-baik aja. Malah ia bilang hari ini
mau pergi”. Aku mulai khawatir.
“Kemarin mas Mikha
kecelakaan non, ia terluka parah dan langsung dibawa ke rumah sakit”.
Tiba-tiba saja air mataku
menetes. Aku sedih sekali mendengarnya. Ya tuhan, semoga tidak terjadi sesuatu
terhadap mikha. Batinku dalam hati.
Akhirnya aku, Dina dan bibik
berangkat ke rumah sakit.
Sesampainya disana, terlihat
kedua orang tua mikha sedang menunggu di depan ruang ICU bersama seorang
perempuan cantik berambut panjang. Aku memperhatikannya, rasanya aku pernah
melihatnya.. Tapi dimana yaa..?” tanyaku dalam hati.
“Om, tante.. kami teman
sekelasnya mikha.. Saya Shilla dan ini Dina. Apa yang terjadi dengan mikha,
tan?” tanyaku melemas.
“Mikha kemarin kecelakaan,
ia tertabrak mobil dan terpental jauh hingga tak sadarkan diri. Lukanya cukup
parah, sekarang ia koma nak.. Tante tidak tahu harus bagaima lagi.. kami
pasrah..” Tante ira menangis dalam pelukan Om Irwan.
“Tante yang sabar yaa, kita
berdoa untuk Mikha semoga diberi kesembuhan..” Dina mencoba menenangkan Tante
Ira sementara aku terdiam, lemas dan menangis.
“kamu yang namanya Shilla,
ya?” Tanya tante ira sambil menunjuk Shilla.
“Tante menemukan buku ini di
kamar mikha. Coba kamu baca ya nak.”
Aku mengambil buku itu
dengan gemetar.
Mengapa tante menyuruhku
membacanya?
Dan aku pun membaca buku itu
dengan perlahan.
**
Jan 2010
Kenapa ya kok gue jadi
kepikiran dia terus?
Apa gue suka sama dia?
Tapi mana mungkin gue bisa
dapetin dia,
Dia cantik dan smart banget.
Semester 1 kemarin dia juara
kelas dan gue juara 2.
Gue harus semangat nih
ngalahin dia, siapa tau dengan begitu dia bisa simpatik sama gue.
Dan yang paling gue suka,
dia itu ga kaya cewe pecicilan lainnya.
Her name is Ashilla. Yes,
just Ashilla. J
Ini halaman pertama di buku
diary nya Mikha.
Ya tuhaaaaaan, ternyata
mikha juga ngerasain perasaan yang sama.
Aku tak kuasa menahan
tangis, haru..
Lembar per lembar ku baca.
Dan semua isi buku itu tentangku.
Dan sampai di beberapa
lembar terakhir…
Mei 2012
Apes banget, kemarin gak bisa ngeliat shilla pulang
sekolah, karena mesti jemput adik gue Marsha. Dia baru aja pindah sekolah ke
Jakarta jadi dia belum hafal arah pulang. Dan Hari ini Shilla gak masuk ,
kemana ya dia? Apa dia sakit? Ahhh.. kenapa gue jadi uring-uringan gini gak
ketemu dia, padahal baru sehari.
Kangen kamu, Shill..
Juni 2012
Besok adalah pengumuman
hasil kelulusan. Gue berharap Shilla mendapat nilai terbaik supaya dia bahagia.
Mungkin besok adalah hari terakhir gue ketemu dia karena gue harus urus kuliah
gue di Sydney, disana gue akan tinggal bersama om dan tante gue.
Gue harus bagaimana ?
Gue pengen banget
ungkapin perasaan ini ke dia.
Tapi gue gak siap kalau
harus ditolak dia.
Dan gue gak mau dia marah
kalau dia tau gue sayang sama dia.
Shilla..
Andai kamu tahu,
Cuma kamu satu-satunya
perempuan yang bisa buat aku seperti ini.
Kamu yang selalu membuat aku
semangat ke sekolah, belajar dan semangat untuk meraih cita-cita aku.
Aku sayang banget sama kamu,
Shilla.
Tapi aku terlalu bodoh, aku
pengecut karena gak berani ngomong sama kamu..
Setahun lalu aku lah yang
memberimu bunga dan coklat itu..
Aku datang ke sekolah pagi
buta agar tidak ada yang melihat bahwa akulah yang menaruh semua itu.
Pengecut sekali kan aku..
Shilla,
Aku akan pergi dan mungkin
kita gak akan bisa ketemu lagi..
Seandainya aku punya
keberanian, aku pengen banget bisa peluk kamu dan bilang,
“Cuma kamu yang aku sayang
selama ini.. jaga diri kamu baik-baik shilla..
Semoga kamu bisa meraih
mimpi kamu, dan bisa menemukan orang yang bisa membuat kamu bahagia dan selalu
menjadi yang terbaik. .
Aku gak akan pernah
melupakan kamu, dan kamu akan selalu ada di hati aku walaupun kamu bukan
milikku. .
Maafin aku atas sikap
dinginku,
Tapi dibalik sikapku selama
ini,
Aku slalu memperhatikanmu
dan mempedulikan kamu.
Good bye, Ashilla..
_Mikha Pratama_
“Mikha…..!”
Air mata membanjiri
wajahku..
“Tante, aku mau ketemu mikha
tan..
Aku mau masuk sekarang ke
dalam.. tolong tan..”
Aku memohon untuk dapat
masuk untuk melihat mikha..
Akhirnya aku bisa masuk ke
ruang ICU, dimana mikha terbaring dengan selang yang begitu banyak ditubuhnya.
“Mikha, ini aku Shilla.” Aku
berusaha berbicara dengan mikha sambil memegang tangannya. Berharap mikha bisa
mendengarkan aku.
“ Kamu tau gak, kenapa aku ada disini.. tadi
aku ke rumah kamu, aku pengen ungkapin perasaan aku yang udah aku pendam selama
tiga tahun ini sebelum kamu berangkat ke sydney.. aku sayang banget sama kamu
mikha.. tolong jangan tinggalin aku..”
Aku menangis sejadi-jadinya.
Aku tak kuasa menahan kepedihan ini. Melihat orang yang aku cintai terbaring
lemah tak berdaya, dan ternyata ia juga mencintaiku.
Tiba-tiba air mata keluar
dari mata mikha. Ya tuhan, berarti mikha mendengarku.
“Mik, kamu dengar aku mik..
kamu jangan nangis ya mikha.. aku akan temenin kamu disini sampai kamu sembuh.
Aku janji mik.. “ aku mencium tangan mikha.
Tiba-tiba di belakangku
sudah ada Tante ira, om irwan dan Dina.
Mereka pun menangis..
Tiiiiit… titttttt.
Tiittttt…..
“Dok, mikha dok!!”
Tante ira histeris memanggil
dokter.
“Tolong semua menunggu di
luar”.
Dokter meminta kami keluar.
Tante ira terus menangis.
Akupun tak kuasa menghentikan air mataku.
Kami semua menunggu di luar,
berharap dokter keluar dan memberikan kabar baik, bahwa mikha baik-baik saja.
Tapi takdir berkata lain..
“Maaf pak, bu..kami sudah
berusaha semampu kami.... “
Tante ira memotong
pembicaraan dokter,
“Bagaimana mikha, dok? Dia
baik-baik saja kan? Iya kan dok?”
“Maaf bu, dengan berat hati
kami katakan, mikha telah tiada”.
“MIKHAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!!!!!!”
Kami semua masuk ke dalam,
melihat mikha terbujur kaku sudah tak bernyawa.
Mikha telah tiada.
Mik, aku kira kamu akan
pergi sebentar untuk kuliah di Sydney.. tapi
ternyata kamu pergi untuk selama-lamanya..
Kita saling mencintai, tapi
kita tak pernah saling ungkapkan..
Kisah kita telah berakhir
tanpa pernah kita memulainya..
Aku kehilangan kamu.. Aku kehilangan kamu untuk selama-lamanya..
Kamu akan slalu ada di hati
aku, Mikha..
THE END
Karya : Egha Puspita Sari
Nb : Maaf baru belajar nulis cerpen hehe
Comments
Post a Comment